Sambil menyelam minum air, adalah sebuah pepatah yang pantas untuk
berwirausaha. Sama seperti berwirausaha, khususnya didunia pendidikan. Selain
mempertebal saku, juga mempertebal ilmu bagi siswa yang kita ajar. Indonesia
merupakan negara yang pendidikannya sangat minim dan kurang perhatian dari
pemerintah, meskipun pemerintah telah menetapkan bahwa anak wajib sekolah
sembilan tahun. Pada kenyataannya, pendidikan di negeri ini membutuhkan banyak
perhatian dari pemerintah.
Kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan diantaranya adalah
keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta
kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang. Disisi lain, kasus putus
sekolah anak-anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi, akibatnya banyak
anak yang terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga dan pernikahan di
usia dini. Di orde baru sekarang merupakan hal mustahil bagi kita hanya menunggu
dan menunggu uluran dari pemerintah, jika bukan kita generasi muda yang
membantu, lalu siapa lagi? Terutama mahasiswa. Sebagai penggerak bangsa,
seharusnya mahasiswa ikut berperan aktif dalam kegiatan pendidikan, bukan
saatnya mahasiswa hanya duduk manis dan belajar, namun diharuskan berperan
aktif terhadap masyarakat, dan mengaplikasikan ilmu yang telah dimilikinya
selama ini.
Menurut saya, berwirausaha di dunia pendidikan bukan hal yang
buruk, karena pendidikan menentukan masa depan bangsa. Tanpa pendidikan, bangsa
ini tidak akan maju dan berkembang. Terlebih dunia ini semakin hari semakin
canggih. Dimana anak usia Sekolah Dasar sudah mengerti apa yang dipelajari anak
usia Sekolah Menengah Atas. Namun seiring perkembangan zaman, tidak semua anak
atau masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak, di tempat saya tinggal di
daerah Sumedang masih banyak anak yang tidak pernah merasakan bangku sekolah,
mereka membantu orang tuanya berjualan dan tak jarang ada yang belum lulus
Sekolah Dasar sudah dinikahkan oleh orang tuanya dengan alasan faktor ekonomi.
Padahal semua itu bisa disiasati dengan yang namanya Pendidikan Kesetaraan.
Pada tanggal 14 Desember kemarin, saya dan teman-teman di kampus mengikuti
salah satu seminar pendidikan dengan tema “Kiprah Pemuda dalam menciptakan
Ruang Usaha Dunia Pendidikan” disana dibahasa tentang pendidikan kesetaraan,
yang artinya pendidikan non formal yang ditujukan kepada warga negara yang
tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal di sekolah. Biasa dikenal
dengan nama Kejar (Kelompok Belajar) Paket A untuk setara SD, Paket B untuk
setara SMP, dan Paket C untuk setara SMA. Ada juga Program Keasaraan Fungsional
(KF) untuk melayani warga yang buta huruf.
Pendidikan kesetaraan dengan slogan “Menjangkau yang tidak
terjangkau” berupaya memberikan layanan pendidikan bagi warga yang tidak
berkesempatan mengenyam pendidikan formal dengan berbagai alasan. Dalam
pendidikan kesetaraan selain diberikan materi ilmu pengetahuan juga diberikan
materi kecakapan hidup (life skill). Diharapkan warga dapat hidup
mandiri dan menciptakan lapangan usaha bagi mereka sendiri. Selain itu di daerah tempat tinggal saya, masih kurangnya tenaga
kerja pendidikan, seperti guru. Berdasarkan pengalaman saya, saat saya duduk
dibangku sekolah dasar, jumlah pengajar hanya sedikit, dengan pelajaran yang
cukup banyak. Tidak jarang ada guru yang ditempatkan mengajar tidak sesuai
keahliannya, misalnya di sekolah saya kekurangan tenaga kerja guru untuk
pelajaran Biologi, karena tidak ada lagi, dengan terpaksa guru yang tadinya
hanya mengajar satu pelajaran berdasarkan keahliannya menjadi rangkap dalam
pengajaran. Guru tersebutpun menjadi tidak maksimal dalam mengajar karena bukan
keahliannya.
Ketika saya naik ke bangku Sekolah Menengah Pertama, hal yang saya
dapati tidak berhenti sampai disitu, ternyata disekolah SMP saya pun sama,
adanya pengajaran ganda bagi guru karena kekurangan tenaga kerja. Hingga saya
menduduki bangku kuliahpun sama. Dan sangat banyak sekali kasus seperti itu.
Dari kasus-kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa kurangnya kesadaran
masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Kesadaran dalam dunia pendidikan tidak melulu harus terjun sebagai
murid atau siswa, tapi kita bisa mentransfer ilmu kita lewat mengajar. Dan
menjadikan Pendidikan sebagai wadah untuk mencari nafkah dan membagi ilmu.
Saat ini ekonomi di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke
tahun, BBM yang terus saja naik. Mengakibatkan masyarakat harus lebih giat
dalam bekerja. Di dunia perkuliahan masih saja banyak yang bingung menentukan
masa depan mereka mau dibawa kemana. Karena saat ini pula lapangan pekerjaan
semakin jarang dan hampir tidak ada. Untuk pekerjaan sekelas S-1 tidak lain
adalah sebagai karyawan di Perusahaan. Karena Indonesia mengajarkan para siswa
dan mahasiswa sebagai pekerja bukan pendiri usaha. Bagaimana jadinya jika
pemuda mendirikan usaha pendidikan? Saya rasa bukan hal buruk jika dilakukan,
dengan melihat realita saat ini mencari lapangan kerja bukanlah waktunya,
dengan melihat berapa jumlah pesaing yang tersedia. Membuka lapangan kerja
adalah jawaban dan hal yang tepat.
Karena jika kita membuka lapangan kerja khususnya di dunia
pendidikan akan banyak manfaat yang kita dapat, seperti yang dilakukan oleh
PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Pelaksanaan pembelajaran untuk
pendidikan kesetaraan tersentral ada disetiap kecamatan. PKBM ini bisa
membawahi beberapa kejar yang ada di masing-masing desa dalam kecamatan
tersebut. Kegiatan ini, siswanya dibayar hingga Rp 1.000.000 perbulan,
pengelolanya pun sama. Dan dana tersebut berasal dari pemerintah. Hal kecil
yang dapat dilakukan oleh mahasiswa khususnya yaitu membuka kelompok belajar
seperti kursus degan tarif sesuai kemampuan siswanya. Banyak mahasiswa yang
memiliki kemampuan tertentu agar bisa di bagikan ilmunya. Hal ini bisa
mengurangi sedikit dari banyak pengangguran yang ada di Indonesia. Dan juga
baik untuk mahasiswa yang masih melanjutkan di bangku kuliah, agar mereka bisa
mengurangi beban orang tuanya. Jika usaha ini dirintis dari kecil, lama-lama
akan menjadi perusahaan yang besar jika dilakukan dengan serius. Wirausaha
pendidikan, menjanjikan hasil yang memuaskan, baik untuk diri kita sendiri
maupun untuk bangsa dan negara.
Nisa Khoiriyah
Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
