Sabtu, 24 Desember 2016

Opini: Wirausaha pendidikan, menjanjikan hasil yang memuaskan



Sambil menyelam minum air, adalah sebuah pepatah yang pantas untuk berwirausaha. Sama seperti berwirausaha, khususnya didunia pendidikan. Selain mempertebal saku, juga mempertebal ilmu bagi siswa yang kita ajar. Indonesia merupakan negara yang pendidikannya sangat minim dan kurang perhatian dari pemerintah, meskipun pemerintah telah menetapkan bahwa anak wajib sekolah sembilan tahun. Pada kenyataannya, pendidikan di negeri ini membutuhkan banyak perhatian dari pemerintah.
Kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang. Disisi lain, kasus putus sekolah anak-anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi, akibatnya banyak anak yang terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga dan pernikahan di usia dini. Di orde baru sekarang merupakan hal mustahil bagi kita hanya menunggu dan menunggu uluran dari pemerintah, jika bukan kita generasi muda yang membantu, lalu siapa lagi? Terutama mahasiswa. Sebagai penggerak bangsa, seharusnya mahasiswa ikut berperan aktif dalam kegiatan pendidikan, bukan saatnya mahasiswa hanya duduk manis dan belajar, namun diharuskan berperan aktif terhadap masyarakat, dan mengaplikasikan ilmu yang telah dimilikinya selama ini.
Menurut saya, berwirausaha di dunia pendidikan bukan hal yang buruk, karena pendidikan menentukan masa depan bangsa. Tanpa pendidikan, bangsa ini tidak akan maju dan berkembang. Terlebih dunia ini semakin hari semakin canggih. Dimana anak usia Sekolah Dasar sudah mengerti apa yang dipelajari anak usia Sekolah Menengah Atas. Namun seiring perkembangan zaman, tidak semua anak atau masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak, di tempat saya tinggal di daerah Sumedang masih banyak anak yang tidak pernah merasakan bangku sekolah, mereka membantu orang tuanya berjualan dan tak jarang ada yang belum lulus Sekolah Dasar sudah dinikahkan oleh orang tuanya dengan alasan faktor ekonomi. Padahal semua itu bisa disiasati dengan yang namanya Pendidikan Kesetaraan. Pada tanggal 14 Desember kemarin, saya dan teman-teman di kampus mengikuti salah satu seminar pendidikan dengan tema “Kiprah Pemuda dalam menciptakan Ruang Usaha Dunia Pendidikan” disana dibahasa tentang pendidikan kesetaraan, yang artinya pendidikan non formal yang ditujukan kepada warga negara yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal di sekolah. Biasa dikenal dengan nama Kejar (Kelompok Belajar) Paket A untuk setara SD, Paket B untuk setara SMP, dan Paket C untuk setara SMA. Ada juga Program Keasaraan Fungsional (KF) untuk melayani warga yang buta huruf.
Pendidikan kesetaraan dengan slogan “Menjangkau yang tidak terjangkau” berupaya memberikan layanan pendidikan bagi warga yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal dengan berbagai alasan. Dalam pendidikan kesetaraan selain diberikan materi ilmu pengetahuan juga diberikan materi kecakapan hidup (life skill). Diharapkan warga dapat hidup mandiri dan menciptakan lapangan usaha bagi mereka sendiri. Selain itu di daerah tempat tinggal saya, masih kurangnya tenaga kerja pendidikan, seperti guru. Berdasarkan pengalaman saya, saat saya duduk dibangku sekolah dasar, jumlah pengajar hanya sedikit, dengan pelajaran yang cukup banyak. Tidak jarang ada guru yang ditempatkan mengajar tidak sesuai keahliannya, misalnya di sekolah saya kekurangan tenaga kerja guru untuk pelajaran Biologi, karena tidak ada lagi, dengan terpaksa guru yang tadinya hanya mengajar satu pelajaran berdasarkan keahliannya menjadi rangkap dalam pengajaran. Guru tersebutpun menjadi tidak maksimal dalam mengajar karena bukan keahliannya.
Ketika saya naik ke bangku Sekolah Menengah Pertama, hal yang saya dapati tidak berhenti sampai disitu, ternyata disekolah SMP saya pun sama, adanya pengajaran ganda bagi guru karena kekurangan tenaga kerja. Hingga saya menduduki bangku kuliahpun sama. Dan sangat banyak sekali kasus seperti itu. Dari kasus-kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Kesadaran dalam dunia pendidikan tidak melulu harus terjun sebagai murid atau siswa, tapi kita bisa mentransfer ilmu kita lewat mengajar. Dan menjadikan Pendidikan sebagai wadah untuk mencari nafkah dan membagi ilmu.
Saat ini ekonomi di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun, BBM yang terus saja naik. Mengakibatkan masyarakat harus lebih giat dalam bekerja. Di dunia perkuliahan masih saja banyak yang bingung menentukan masa depan mereka mau dibawa kemana. Karena saat ini pula lapangan pekerjaan semakin jarang dan hampir tidak ada. Untuk pekerjaan sekelas S-1 tidak lain adalah sebagai karyawan di Perusahaan. Karena Indonesia mengajarkan para siswa dan mahasiswa sebagai pekerja bukan pendiri usaha. Bagaimana jadinya jika pemuda mendirikan usaha pendidikan? Saya rasa bukan hal buruk jika dilakukan, dengan melihat realita saat ini mencari lapangan kerja bukanlah waktunya, dengan melihat berapa jumlah pesaing yang tersedia. Membuka lapangan kerja adalah jawaban dan hal yang tepat.
Karena jika kita membuka lapangan kerja khususnya di dunia pendidikan akan banyak manfaat yang kita dapat, seperti yang dilakukan oleh PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Pelaksanaan pembelajaran untuk pendidikan kesetaraan tersentral ada disetiap kecamatan. PKBM ini bisa membawahi beberapa kejar yang ada di masing-masing desa dalam kecamatan tersebut. Kegiatan ini, siswanya dibayar hingga Rp 1.000.000 perbulan, pengelolanya pun sama. Dan dana tersebut berasal dari pemerintah. Hal kecil yang dapat dilakukan oleh mahasiswa khususnya yaitu membuka kelompok belajar seperti kursus degan tarif sesuai kemampuan siswanya. Banyak mahasiswa yang memiliki kemampuan tertentu agar bisa di bagikan ilmunya. Hal ini bisa mengurangi sedikit dari banyak pengangguran yang ada di Indonesia. Dan juga baik untuk mahasiswa yang masih melanjutkan di bangku kuliah, agar mereka bisa mengurangi beban orang tuanya. Jika usaha ini dirintis dari kecil, lama-lama akan menjadi perusahaan yang besar jika dilakukan dengan serius. Wirausaha pendidikan, menjanjikan hasil yang memuaskan, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk bangsa dan negara. 


Nisa Khoiriyah
Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar