Minggu, 09 Desember 2018

CERPEN : PAHLAWANKU TELAH GUGUR


PAHLAWANKU TELAH GUGUR
karya : Nisa Khoiriyah
Dari sudut kamar, tampak wanita berbaju hitam duduk termenung seraya memeluk erat lutut dan mengepalkan kedua tangannya. Air mata terus mengalir di celah indera penglihatannya, hidung yang merah, ia menggigit bibirnya seperti merasa kesakitan. Kepergian ayahnya membuat Aish merasa dunia telah merenggut kebahagiannya. Bagaimana tidak, pahlawan yang selama ini selalu melindungi dan menyayangi tanpa letih harus menjemput kematian disaat putri kesayangannya mulai tumbuh dewasa.
“Tuhan, kenapa kau harus memanggil ayahku secepat ini? Bahkan aku tak sempat mengucapkan kata maap ketika malaikat menjemputnya”, jerit Aisyah dalam hati..
***
Aisyah adalah seorang gadis yang dilahirkan dari malaikat tak bersayap bernama Ibu di tempat terindah yang telah ditentukan oleh Tuhan. Gadis pemilik senyum yang manis ini merupakan buah cinta yang ketiga dari tiga hasil panen orang tuanya. Kedua saudara kandung Aisyah berjenis kelamin laki-laki perkasa. Tak heran jika ia dimanjakan oleh kedua orang tua dan kakak kandungnya. Gadis yang akrab disapa Aish ini selalu menjadi pencair dan penghangat di keluarganya. Kini, gadis manja itu tumbuh dewasa dan sedang memaksa sejarah mengukir namanya di masa putih-abu. Sedangkan kedua saudara Aish tinggal diluar kota bersama malaikat kecil dan bidadari dunianya.
Dibalik sikap manja Aish, ia gadis yang tumbuh dengan watak keras kepala dan susah diatur. Maklum karena selama beberapa tahun dari sejak SMP sampai lulus SMA ia tinggal bersama saudaranya didaerah yang tidak jauh dari rumahnya, orang tuanya menitipkan karena mereka harus mengurus usaha yang sedang dirintisnya.
***
Aish merasa kurang diperhatikan oleh orangtuanya. Mereka sIbuk menjalankan usaha diluar kota. Orang tuanya hanya menjenguk satu minggu sekali, itupun jarang hanya ketika waktu-waktu tertentu saja, hanya sekedar bertanya bagaimana di sekolahnya. Sedikit makanan untuk bekal Aish kadang dibawakan Ibunya. Sangat disayangkan sikap Aish yang memang tidak bisa menunjukkan rasa peduli terhadap siapapun tidak jarang bersikap seolah tidak peduli apabila orang tua datang menjenguknya.
“Aish, bagaimana kabarmu? Sehat? Sekolahmu lancar?” tanya Ibunya,
“ya begitulah. Sekolahku lancar-lancar saja.” Jawabnya,
“ayah perhatikan prestasimu menurun, kenapa? Jangan main sampai lupa waktu, belajar yang benar nak, biar kamu jadi orang yang pintar, sukses, kalau kamu pintar kan ayah dan Ibu jadi bangga sama kamu, nanti kalau...”, ketika ayahnya berbicara, tiba-tiba Aish memotong pembicaraan, “apa sih yah, siapa yang main terus?!”, Aish merasa jengkel,
“iya, ayah hanya mengingatkan”, sambung ayahnya lagi
Aish terdiam karena merasa bahwa ia telah salah bersikap kasar pada ayahnya, tidak lama kemudian Ibunya melihat kamar Aish yang dalam kondisi berantakan, baju berserakan dimana-mana, tempat tidur tidak di bereskan,
“Aish, kau itu ngapain saja sih seharian dirumah? Kasur sampai berantakan begitu. Beresin dong setiap bangun tidur, baju kotor jangan ditumpuk, cuci sendiri. Jangan menyusahkan bibimu.” Sontak Ibu memarahi Aish,
Lagi-lagi Aish menjawab dengan nada tinggi, “iya nanti juga diberesin ih! Biarkan saja, nanti aku cuci bajunya, marah-marah terus, pusing aku!”,
“gitu tuh udah berani melawan orang tua”, jawab Ibunya kesal.
Selalu seperti itu setiap orang tuanya menjenguk, Aish selalu di marahi karena memang ia susah di atur dan susah diberitahu. Terkadang Aish berharap orang tuanya tidak pernah menjenguknya, ia hanya tidak ingin dimarahi terus-menerus. Keadaan ini membuat Aish kesal dan ingin segera bebas tidak diatur lagi. “jadi ingin cepat-cepat dewasa biar gak dimarah-marahin terus!” gumamnya.
***
Saat itu, di hari ulang tahunnya, 13 Desember menjadi hari paling bahagia untuk seorang remaja yang menginjakan usianya di angka 17 tahun. Tidak ada perayaan spesial, bahkan dari keluarganya sekalipun. Namun ia selalu bersyukur, karena nikmat yang Tuhan beri tidak ada habisnya. Memiliki orang tua yang utuh dan selalu menemaninya. Sekalipun ia selalu dimarahi.
Di hari itu, Aish yang sedang manja berkata kepada ayah dan Ibunya yang sedang duduk di ruang TV,
“Ibu, ayah, hari ini Aish ulang tahun” ungkapnya.
Maklum kedua orang tua Aish sudah berumur senja jadi tidak ingat kapan anak-anaknya ulang tahun, bahkan tanggal lahir kedua orangtua nya pun mungkin tidak ingat.
“oh begitu nak? Maap ya ayah lupa. Wah, anak ayah sudah besar sekarang” jawab ayahnya sambil merangkul Aish seraya memberikan pelukan,
“ayah dan Ibu doakan semoga Aish sukses, apa yang di cita-citakan Aish tercapai, aamiin”, tutur Ibunya, tak sengaja air mata bahagia itu mengalir lembut di matanya.
Diusianya yang sudah mulai dewasa, menjadi pertanda bahwa Aish sebentar lagi akan menyelesaikan sekolah nya di bangku SMA, masa dimana mulai menentukan akan dilanjutkan kemana perjuangan hidupnya, akankah berhenti hanya sampai SMA dan bekerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk gadis seusia Aish, biasanya sedang masa-masa dilema, hari ini ingin menjadi seorang guru, besok bisa jadi ingin menjadi karyawan, lusa bisa jadi tiba-tiba ingin menjadi seorang dokter. Tergantung bagaimana semangat yang dimiliki, lingkungan bisa mempengaruhi pola pikir setiap orang, tentunya disini bimbingan orang tua sangat penting untuk menentukan masa depan anak. Beruntungnya Aish memiliki orang tua yang selalu memberikan support padanya. Apalagi ayah Aish, yang selalu memberikan motivasi agar setelah lulus SMA, Aish bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
***
Dari dulu Aish bercita-cita ingin menjadi seorang polisi wanita (Polwan), namun kekurangan Aish yaitu ia tidak bisa melihat indahnya dunia tanpa efek blur dimata, Aish memiliki masalah rabun jauh dan harus memakai kacamata. Namun ayahnya tetap mendukung tekad Aish yang ingin menjadi Polwan. Setiap hari Aish berlatih fisik dan mengkonsumsi makanan yang dapat membantu proses latihan fisiknya. Semenjak itu ayahnya selalu memperhatikan kondisi Aish.
***
Singkat cerita, Aish lulus SMA dengan nilai yang kurang memuaskan. Seperti biasa, sikap orang tua yang kecewa terhadap prestasi anaknya, memarahi dengan nasihat-nasihat bijak. Ayah yang begitu menyayanginya selalu membangkitkan semangat Aish,
“tidak apa-apa nak, yang dicari bukan nilai tapi proses dan hasil ilmu yang didapatnya, semoga bisa bermanfaat”, tutur ayahnya.
Aish merasa sedih dan kecewa, namun mencoba untuk memperbaiki semuanya.
***
Setelah lulus SMA, Aish tinggal kembali dirumahnya. Ia merasa senang karena bisa berkumpul walaupun dirumah hanya ada Aish, Ibu, dan ayah. Sejak saat itu Ibu dan ayahnya sering pulang ke rumah, karena usaha yang dirintis orang tuanya saat itu mengalami penurunan laba, yang mengharuskan usaha orang tuanya berpindah ke daerah yang tidak jauh dari rumah Aish.
Suatu ketika, Aish dan ayahnya pergi ke dinas kependudukan yang berada didaerahnya dengan tujuan membuat kartu tanda penduduk (KTP) untuk Aish. Saat itu sedang sIbuk mengurus persyaratan pendaftaran Brigadir Polwan. Ketika sedang mengantri, tiba-tiba ayahnya terlihat berbicara dengan seorang pria berjaket hitam dan memakai celana berbahan katun yang selaras dengan warna jaket yang dikenakan. Pria itu bercerita tentang kehidupannya sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Ayah Aish sangat tertarik dengan obrolan pria tersebut, hingga sesampainya dirumah ayahnya menawarkan tentang perkuliahan.
***
Pada awalnya Aish menolak kuliah, ia tidak ingin memberatkan orang tuanya yang harus kembali membiayai sekolahnya. Namun takdir berkata lain, ketika Aish mengikuti pendaftaran ternyata ia tidak lolos seleksi brigadir polwan. Apalah daya ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, ia merubah haluan, yang akhirnya Aish memilih untuk melanjutkan sekolah di salah satu perguruan tinggi di Bandung yang sempat menjadi bahan obrolan seorang pria berjaket hitam tempo lalu.
***
Saat itu langit berwarna jingga menyelimuti Ibukota, dengan semangat gadis bercita-cita setinggi langit namun usahanya masih seukuran bumi paling bawah ini sIbuk kembali, bergelut dengan kertas-kertas dan sebuh map coklat yang bertuliskan peserta test perguruan tinggi Bandung.
“bagaimana persyaratannya Aish? Sudah terkumpul semua?”, tanya ayah kepada Aish yang sedang duduk dikamarnya,
“belum yah, tinggal dikit lagi. Rencananya besok aku mau ke bank untuk melakukan registrasi pembayaran test”, jawabnya,
“ya sudah bagus kalau begitu, semangat ya nak, ayah percaya kamu bisa. Selalu berdoa dan jangan tinggalkan shalat”, ucap ayahnya.
***
Tik.. tok.. tik.. tok.. jam berdenting menunjukkan pukul 10.00 malam namun gadis itu masih saja asyik dengan handphone ditangannya yang tak berhenti ia sentuh, ia tersenyum sendirian mungkin bahan obrolan dalam handphone bersama teman-temannya begitu membuatnya senang. Dari luar pintu, seorang pria menghampiri kamar Aish,
“tok, tok, tok.. Aish. Kau belum tidur nak?, (seraya membuka pintu ), tanya ayahnya,
“belum yah, masih asyik main Hp, mengobrol dengan teman SMA”, jawabnya,
“kerjaanmu nak, main handphone terus. Oh iya nanti kalau kuliahmu sudah mulai, kamu kan pasti nge-kost, nanti ayah buatkan rak buku yang menempel di dinding, biar kamu bisa menyimpan buku-buku disitu, jadi kalau kamu pulang ke rumah, kamu bisa tetap membaca buku dikamarmu ini,” sambung ayahnya,
“hmm, iya iya”, Aish mengacuhkan obrolan ayahnya. Seraya menutup pintu, ayahnya menatap dalam anak bungsu kesayangannya dengan penuh harap. Rasa tak sabar dimata seorang ayah yang ingin menjadi saksi pertama yang melihat anaknya sukses.
***
Dimulai pagi ini, seperti biasa Aish susah untuk dibangunkan. Setiap pagi-pagi buta Aish mendapat teriakan dari Ibunya yang menyuruh bangun dibarengi ayahnya yang membangunkannya untuk menyuruh solat. Ayah Aish bukan seorang ustad, namun ayahnya sangat mengutamakan kepentingan agama. Diusianya yang sudah lebih dari setengah abad ini, pria berjanggut dengan mata penuh lelah, pahlawan bernama ayah masih harus memikirkan masa depan anak perempuan satu-satunya. Wajar bila kedua orang tua Aish memberikan perhatian ketat kepadanya. Hanya satu harapan mereka, tidak ingin anaknya hidup sengsara di dunia maupun di akhirat kelak. Setidaknya Aish tidak lepas dari ajaran agama agar ia selalu mendapat tuntunan hidup. Faktanya pergaulan jaman sekarang bisa jadi sebagai penghancur generasi muda bagi yang tidak kuat imannya. Harapan dan doa tertuju untuk Aish di setiap sujud Ayahnya.
***
Di rumah yang sederhana, di cat berwarna hijau, hanya satu kamar yang berbeda warna, pink menjadi pilihan warna tempat untuk merangkai mimpi indah gadis remaja yang sudah beranjak dewasa. Tak biasanya Aish sudah terlelap dalam buaian boneka-boneka lucu miliknya. Udara malam mencekam, dan tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar sebelah,
“Ayah, bangun yah.. bangun.. ayah kenapa?”, teriak Ibu dikamarnya,
Mendengar teriakan itu Aish terbangun dan menghampiri Ibunya yang sedang menyaksikan ayah tergeletak di depan itu kamar.
“ayah kenapa bu? Ayaaah”, tangis Aish tak bisa di bendung lagi, semua ketakutan menghantuinya. Berbagai prasangka buruk, kini ada di pikirannya.
***
Bau khas obat-obatan dan oksigen mulai tercium. Tangga demi tangga ia naiki, jalanan ini terasa berat di lewati seraya membayangkan wajah Ayahnya yang sudah satu bulan ini harus berpindah tempat tidur di rumah yang dipenuh orang sakit. Namun sudah satu minggu ini, penyakit serangan jantung yang diderita Ayahnya mengharuskan untuk dirawat di ruangan khusus bernama ICU. Entah ruangan apa itu, yang jelas pahlawan bernama ayah sudah nampak didepan mata Aish.
Kasur, bantal, dan selimut berwarna putih. Dengan infus serta alat-alat lain yang terhubung ke jantung melekat di tubuh ayahnya. Air mata tak bisa di bendung, namun Aish harus tetap kuat agar ayahnya merasa bahwa keadaan ini akan baik-baik saja.
“Aish, kamu datang nak? Dengan siapa kesini?”, tanya ayahnya,
“iya yah, aku kesini sendiri.”, sambungnya , “Kata dokter bagaimana keadaan ayah, bu?”, jawab Aish dengan nada lirih, lalu melontarkan pertanyaan pada Ibunya yang setia menemani ayah setiap hari,
“kata dokter kondisi ayah semakin baik, insya Allah kalau terus ada peningkatan dua hari lagi ayah bisa pulang”, jawab ibu,
“alhamdulillah kalau begitu”, Aish merasa lega,
“oh iya nak, bagaimana urusan kuliahmu? Sudah selesai daftarnya?, tutur ayahnya,
“sudah yah, insya Allah dua minggu lagi Aish test ke Bandung langsung di kampusnya”, jawab Aish dan tersenyum,
“syukurlah, sebentar lagi anak ayah akan masuk perguruan tinggi. Ayah senang mendengarnya, semoga lancar dan diterima di jurusan yang kamu inginkan”, sambung ayahnya merasa senang mendengar berita itu,
“sudah lah yah jangan dulu memikirkan tentang kuliah Aish, ayah kan masih sakit”, tutur Ibu nya.
Ibunya Aish memang tidak begitu setuju dengan keputusan bahwa Aish akan kuliah, karena Ibunya sudah tidak sanggup membiayai perkuliahan Aish, jika hanya mengandalkan kakaknya Aish dirasa tidak akan cukup. Namun disamping itu, Ayahnya selalu memberikan semangat serta harapan sukses yang selalu di berikan kepada anak bungsunya itu.
***
Hari ini, hari dimana yang ditunggu-tunggu. Seiring berjalannya waktu sesuai janji dokter, ayahnya Aish sudah bisa pulang. Disambut tetangga dan kerabat, akhirnya ayahnya Aish tiba kembali dirumah bersejarah bagi keluarga Aish. Kenangan demi kenangan tersimpan dirumah ini. Senyum bahagia terpancar di wajah Aish dan keluarga. Setiap hari selalu saja ada yang menjenguk, karena ayahnya Aish memang banyak teman dan kerabat.
“Ayah, jang terlalu cape. Kata dokter apa, jangan dulu banyak ngobrol. Mending ayah tiduran saja”, ucap Ibunya Aish menghampiri ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu bersama para penjenguk,
“sudahlah bu, toh cuma duduk saja tidak kemana-mana. Lagian masa ada tamu di diamkan tidak diajak bicara, nanti dikira ayah malas bicara, hahaha..”, gurau ayah yang meledek Ibunya Aish.
***
Pagi ini, sudah satu minggu keberadaan ayah dirumah setelah kepulangannya dari rumah sakit. Keadaan ayahnya Aish semakin membaik. Setiap pagi sudah bisa sarapan, makan nya selalu menambah dua kali setiap makan. Kini ayahnya sudah bisa memarahi Aish lagi. Aish merasa senang walaupun sedikit jengkel. “tidak apa-apalah aku dimarahi. Yang penting ayahku sehat”, gumam Aish yang tersenyum sendiri di kamarnya.
“Aish sudah solat Asar?”, ayah menghampiri Aish.
“belum”, jawab Aish singkat
“cepat solat”, jawab ayahnya
Selang 15 menit..
“Aish, solat”, ayah nya menyuruh lagi,
“hmm”, jawab Aish semakin singkat
Kira-kira sudah 30 menit, dan sebentar lagi waktu solat akan berakhir.
Mulai habis kesabaran Ayahnya, menyuruh Aish solat tapi dia mengacuhkan, tiba-tiba ayahnya memarahi Aish “Aish, solat! Kamu ini disuruh solat susah sekali. Punya anak semuanya susah disuruh solat. Padahal cuma 5 menit saja. Main HP bisa sampai berjam-jam, disuruh solat yang cuma 10 menit saja susah. Nanti bagaimana kalau Ayah atau Ibumu meninggal? Siapa yang akan mendoakan selain anak-anaknya? Heran anak jaman sekarang susah sekali disuruh solat”,
“iya yah iya Aish solat nih”, jawab Aish yang bergegas mengambil wudhu.
***
Matahari mulai meninggalkan cahayanya, ia lelah karena seharian tak pernah meredupkan cahaya sedetikpun. Sekarang gilirannya bulan menggantikan matahari. Langit biru berubah menjadi gelap. Artinya malam telah tiba.
Dari tadi pagi ibu Aish pergi ke luar kota karena ada keperluan mendadak dan baru akan pulang esok hari. Ibu menitipkan ayah kepada Aish agar menjaganya dan mengingatkannya untuk minum obat. Karena kesehatan ayah belum benar-benar pulih.
Dirumah hanya tinggal Aish, ayah dan salah satu kerabat Aish. Anehnya malam itu Aish tak bisa tidur. Hati tidak tenang. Begitupun ayahnya. Tidak biasanya ayah Aish belum tidur padahal sudah hampir tengah malam. yang dilakukan ayahnya hanya bulak-balik kamar lalu ke ruang tamu. Sedangkan kerabatnya sudah tidur pulas.
“Aish, ayah minta minum nak, haus. Tapi ingin air hangat ya”, pinta ayah kepada Aish yang sedang asyik nonton televisi sedangkan ayah duduk di ruang tamu tepat di belakang Aish,
“iya, tunggu ya yah”, bergegas menuju dapur dan mengambilkan segelas air hangat untuk ayahnya,
Saat menyodorkan air untuk ayahnya, terlihat raut wajah ayah tidak begitu baik, pucat dan nafas yang tidak teratur. Yang Aish lihat saat itu wajah ayahnya bercahaya dan bersih. Ayah Aish memang tampan, hidungnya mancung, tapi malam itu ada yang berbeda dengan wajahnya.
“ayah baik-baik saja kan? Apa yang sakit yah?, tanya Aish sembari memijit-mijit pundak ayahnya yang baru saja selesai minum,
“tidak apa-apa Aish, ayah baik-baik saja hanya sedikit sesak nafas mungkin efek dari serangan kemarin”, jawabnya tenang
“ya sudah, ayah mending tidur. Istirahat supaya cepat sembuh”, sembari mengantarkan ayahnya ke kamar.
***
Tepat pukul 01.00 pagi. Masih belum bisa tidur. Ada apa dengan mata ini. Tak bisa dipejam walau sebentar. Padahal sebenarnya Aish lelah dan ingin tidur. Akhirnya Aish gelisah diatas kasur, memaksa mata agar terpejam. Lambat laun ia bisa tertidur dengan hati yang gelisah. Semuanya tertidur, selang satu jam kerabat yang menginap dirumah Aish membangunkannya.
“Aish, bangun.. itu ayahmu dari tadi memanggil-manggil kamu”, kata kerabat Aish,
Aish terkejut mendengarnya, lalu berkata “Ayah kenapa? Ayaaaah”, menghampiri ayahnya yang tengah kesulitan bernafas,
“Astagfirullah, Allah, Allah, Allah”, hanya kata itu yang diucapkan oleh ayahnya Aish.
Aish tahu dada ayahnya sangat sesak, nafasnya sulit, raut wajahnya sangat mucat lebih dari sebelumnya, lalu kerabat Aish memanggil tetangga terdekat meminta tolong agar ayah Aish segera dibawa ke rumah sakit. Di saat seperti ini, yang bisa Aish lakukan hanya bertanya,
“kenapa yah? Apa yang sakit?”, Aish tak kuasa menahan air matanya,
Lalu datang para kerabat dan tetangga untuk membantu membawa ayah Aish ke rumah sakit. Aish yang sedari tadi duduk di hadapan ayahnya langsung inisiatif ke kamar ayahnya mengambil kaos kaki di dalam lemari dan mengenakannya kaki ayahnya agar tidak merasa kedinginan,
“Allah, Allah, Allah, Allah”, lagi-lagi kata itu yang hanya bisa diucapkan oleh ayahnya,
Kemudian ayah Aish di bawa kedalam mobil milik salah satu tetangga, dengan di boyong beberapa orang saja menuju mobil,
“Aish, kamu diam di rumah saja, jangan ikut ke rumah sakit”, tutur bibi Aish seraya masuk ke dalam mobil,
Padahal disitu Aish memaksa ingin ikut. Tapi semua orang melarang Aish untuk ikut. Akhirnya Aish hanya bisa diam dirumah dengan beberapa kerabat yang lain dan menunggu kabar. Hati Aish hancur ketika melihat ayahnya yang beberapa jam yang lalu masih terlihat baik-baik saja, kini harus dibawa ke rumah sakit. Aish hanya bisa berdoa agar ayahnya bisa pulih kembali. Karena khawatir kesehatan dirinya, Aish memaksakan diri untuk tidur.
***
Baru saja Aish terlelap, tepat pukul 03.00 pagi ada telpon dari rumah sakit. Aish mendengar namun pura-pura tidak mendengar, dia hanya diam di kamar. Lalu kerabat Aish menjerit,
“aaaa.. apa? Innalillahi wainnailaihi rojiun..” jerit kerabat Aish sambil menangis, lalu memanggil-manggil nama Aish.
“apa? Ayah kenapa?”, tanya Aish dengan penuh ketidak percayaan.
“ayah kamu Aish, ayah kamu...” sambil menangis menatap Aish,
Saat itu, dengan dinginnya Aish tidak menjawab apapun. Seperti tidak percaya. Yang Aish lakukan membuka gorden semua rumah, dan menyalakan TV.
“kamu ini kenapa Aish, malah menyalakan TV. Itu ayah kamu sudah tiada Aish”, salah satu kerabat Aish marah kepadanya, menyadarkan Aish,
Setelah itu Aish baru sadar, bahwa pahlawan bernama ayah benar-benar sudah tiada.
***
Entah bagaimana perasaan Aish saat itu. ia hanya bisa menangis dan memanggil-manggil,
“ayaaaaaaah... ayaaaaaaah”, teriak Aish di dalam kamar.
Berdatangan kerabat dan tetangga Aish ke dalam rumah dan menenangkannya.
***
Langit masih terlihat cerah, namun hati Aish benar-benar mendung dan hujan lebat. Tangisannya tak bisa berhenti sejak tadi malam. Sakit membelah dada. Lebih sakit dari apapun. Inikah yang dirasakannya? Siapapun tidak akan bisa merasakan sesakit hati Aish. Apalagi ketika ia teringat semua yang telah dilewati bersama ayahnya, yang berharap dapat menyaksikan kesuksesan Aish. Bahkan ayahnya tidak tahu apakah Aish di terima di perguruan tinggi atau tidak. Bahkan ayahnya tidak tahu apakah Aish bisa menjalankan test atau tidak. Pikiran Aish mengingat masa lalu bersama ayahnya. Sakit itu semakin bertambah ketika ingat bahwa Aish selalu membantah perkataan ayahnya. Sakit, se-sakit-sakitnya.
Isak tangis semakin memuncak ketika jenazah ayahnya Aish tiba di kediaman. Kain kafan menyelimuti jenazah. Tidur di tengah-tengah kumpulan keluarga. Terlihat semua orang menangis, bahkan saudara kandung Aish pun menangis. Tidak perlu dipertanyakan lagi, ibunda Aish yang merasa terpukul atas kepergian suami tercintanya. Merasa sangat menyesal karena malam itu tidak berada di samping ayah Aish.
Namun tidak ada gunanya menyesal berlarut-larut. Nyawa yang sudah dicabut tidak bisa dikembalikan lagi. Sudah kehendak yang kuasa. Manusia hanya bisa menerima dan berdoa. Dan hati yang sakit, tidak ada obatnya.
***
Dari sudut kamar, tampak wanita berbaju hitam duduk termenung seraya memeluk erat lutut dan mengepalkan kedua tangannya. Air mata terus mengalir di celah indera penglihatannya, hidung yang merah, ia menggigit bibirnya seperti merasa kesakitan. Kepergian ayahnya membuat Aish merasa dunia telah merenggut kebahagiannya. Bagaimana tidak, pahlawan yang selama ini selalu melindungi dan menyayangi tanpa letih harus menjemput kematian disaat putri kesayangannya mulai tumbuh dewasa.
“Tuhan, kenapa kau harus memanggil ayahku secepat ini? Bahkan aku tak sempat mengucapkan kata maap ketika malaikat menjemputnya”, jerit Aisyah dalam hati..
***
Pahlawanku.. telah gugur..
Istirahat dalam kedamaian
Hidupnya penuh perjuangan
Berjuang memikul beban untukku
Pahlawanku.. telah gugur..
Di medan pertempuran masa depanku
Kini aku sendirian
Bertempur dalam ketidaktahuan
Apa yang harus aku lakukan?
Lelahmu ku hargai
Matimu kuhormati
Aku menyayangimu, pahlawan ku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar