Minggu, 09 Desember 2018

CERPEN : ANDAIKAN MASJID BISA BICARA


Andaikan Masjid bisa Bicara
Karya : Nisa Khoiriyah

Aku adalah salah satu mahasiswi jurusan Komunikasi di Universitas di Bandung, yang tengah menyelesaikan studi akhir. Pada saat itu, ketika perkuliahan selesai sekitar pukul 07.10 melewati tangga-tangga kecil, dari lantai 4 sampai lantai 1. Maklum di gedung belajar fakultasku tidak disediakan lift. Berjalan dari tangga ke tangga lain dengan penuh rasa malas karena jumlah tangga yang bila dihitung lebih dari sepuluh anak tangga, mungkin sekitar empat puluh sampai lima puluh anak tangga. Terbayang harus berapa ribu volt kekuatan untuk menapaki tangga-tangga itu, yaa meskipun track yang dilalui adalah jalan yang menurun. Dengan mengumpulkan beribu-ribu kekuatan aku menuruni tangga itu dengan cepat, mendahului teman-temanku yang jalannya sangat lambat, mungkin karena rasa malas mereka sudah ada ditingkat paling atas yang disebut Mager (Malas Gerak). Kupegangi tangan dari tangga yang kulalui, membayangkan jika aku sedang berjalan diatas pelangi dan diiringi backsound dengan lagu yang romantis. Aku baru sadar, kenapa aku berjalan sangat cepat padahal saat itu aku sedang malas, semakin cepat hingga tidak terasa bahwa aku sudah sampai di tangga menurun yang terakhir, sedangkan teman-temanku berada jauh dibelakangku. Kunikmati satu persatu anak tangga itu, merasakan bahwa penderitaanku menuruni tangga akan segera berakhir.
Kenikmatan yang kurasakan, keindahan bayangan berjalan diatas pelangi yang diiringi lagu romantis, hilang seketika saat Dia berada didepanku. Bukan lagi lagu romantis yang menjadi backsound, tapi lagu-lagu yang selalu dijadikan backsound film horror yang pernah aku tonton. Ya Dia, laki-laki di masalaluku. Tatapan itu mengingatkanku pada tahun terakhir ketika bertemu, belum lama jadi aku masih ingat dengan tatapan itu. Terlalu lama aku dengannya bertatapan. Aku merasa canggung jika harus berhadapan seperti itu. Kesan pertama ketika bertemu kembali, jika dilihat dari fisik Dia masih seperti yang dulu aku kenal. Namun ada satu yang berbeda, yaitu senyuman. Ada rasa ragu ketika dia memberiku senyuman, seperti ingin dan tidak ingin. Tapi jika boleh aku memberi saran, lebih baik jangan tersenyum, karna aku tidak suka dengan senyumannya saat itu.
“hei.. kamu?”
Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan kepadanya. Entah mengapa tiba-tiba aku gugup, kehilangan kesadaran, dan hampir mual-mual. Aku kira itu gejala penyakit magg yang diakibatkan telat makan. Ternyata bukan, itu karena aku nerveous. Laju jalanku yang tadinya cepat berubah menjadi lambat, seperti ada yang menghentikan detik jam yang berbunyi, seperti film-film di FTV yang di edit effect slow motion, berlebihan memang tapi itu yang kurasakan.
“kamu mau kemana?” ucapku. Sulit rasanya mengungkapkan kata itu.
“mau keatas, kumpul sama temen-temen. Kamu mau kemana?” jawabnya.
“eeeeemmmm.. mau ke..... (loading lama) kostan”
“oh yaudah, aku keatas dulu ya” sambungnya dengan beriringan kaki yang akan melangkah ke tangga atas
lalu aku menjawab, “iya”. Percakapan singkat, padat, dan jelas.
Lalu kami berjalan berlawanan arah, dia ke atas dan aku ke bawah. 0,01cm, tangannya dan tanganku nyaris berdekatan.
Singkat cerita, akhirnya aku lulus. Tiba-tiba Dia yang kutemui di tangga tempo lalu, berjalan ke arahku yang pada saat itu aku sedang berada di pelataran masjid yang ada dikampusku, dibawakannya sebuah kotak berwarna merah dan diberikan kepadaku, ketika dibuka ternyata isinya sebuah cincin, hal yang tak pernah ku duga dia mengatakan,
“Will you merry me?”
Serontak aku kaget mendengarnya.. Namun aku hanya terdiam ketika mendengar itu. orang-orang disekitarku pun merasakan hal yang sama. Saat itu aku bingung harus menjawab apa, ini terjadi secara tiba-tiba. Dalam hati aku berkata,
“apa ini hanya mimpi? Atau halusinasi? Ah entahlah, yang jelas aku bingung. “
Andaikan masjid bisa bicara waktu itu, aku ingin menanyakan, apakah ini yang namanya jodoh? Sayangnya, masjid bukanlah gedung yang bernyawa dan berakal. Aku hanya termenung melihat dia yang masih berlutut di depanku.

-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar