Andaikan Masjid bisa Bicara
Karya : Nisa Khoiriyah
Karya : Nisa Khoiriyah
Aku adalah salah satu mahasiswi jurusan Komunikasi di Universitas
di Bandung, yang tengah menyelesaikan studi akhir. Pada saat itu, ketika
perkuliahan selesai sekitar pukul 07.10 melewati tangga-tangga kecil, dari
lantai 4 sampai lantai 1. Maklum di gedung belajar fakultasku tidak disediakan lift. Berjalan dari tangga ke tangga
lain dengan penuh rasa malas karena jumlah tangga yang bila dihitung lebih dari
sepuluh anak tangga, mungkin sekitar empat puluh sampai lima puluh anak tangga.
Terbayang harus berapa ribu volt kekuatan untuk menapaki tangga-tangga itu, yaa
meskipun track yang dilalui adalah jalan yang menurun. Dengan mengumpulkan
beribu-ribu kekuatan aku menuruni tangga itu dengan cepat, mendahului
teman-temanku yang jalannya sangat lambat, mungkin karena rasa malas mereka
sudah ada ditingkat paling atas yang disebut Mager (Malas Gerak). Kupegangi
tangan dari tangga yang kulalui, membayangkan jika aku sedang berjalan diatas
pelangi dan diiringi backsound dengan
lagu yang romantis. Aku baru sadar, kenapa aku berjalan sangat cepat padahal
saat itu aku sedang malas, semakin cepat hingga tidak terasa bahwa aku sudah
sampai di tangga menurun yang terakhir, sedangkan teman-temanku berada jauh
dibelakangku. Kunikmati satu persatu anak tangga itu, merasakan bahwa
penderitaanku menuruni tangga akan segera berakhir.
Kenikmatan yang kurasakan, keindahan bayangan berjalan diatas
pelangi yang diiringi lagu romantis, hilang seketika saat Dia berada didepanku.
Bukan lagi lagu romantis yang menjadi backsound,
tapi lagu-lagu yang selalu dijadikan backsound
film horror yang pernah aku tonton. Ya Dia, laki-laki di masalaluku. Tatapan
itu mengingatkanku pada tahun terakhir ketika bertemu, belum lama jadi aku
masih ingat dengan tatapan itu. Terlalu lama aku dengannya bertatapan. Aku
merasa canggung jika harus berhadapan seperti itu. Kesan pertama ketika bertemu
kembali, jika dilihat dari fisik Dia masih seperti yang dulu aku kenal. Namun
ada satu yang berbeda, yaitu senyuman. Ada rasa ragu ketika dia memberiku
senyuman, seperti ingin dan tidak ingin. Tapi jika boleh aku memberi saran,
lebih baik jangan tersenyum, karna aku tidak suka dengan senyumannya saat itu.
“hei.. kamu?”
Itulah kalimat pertama yang aku ucapkan kepadanya. Entah mengapa tiba-tiba
aku gugup, kehilangan kesadaran, dan hampir mual-mual. Aku kira itu gejala
penyakit magg yang diakibatkan telat makan. Ternyata bukan, itu karena aku nerveous. Laju jalanku yang tadinya
cepat berubah menjadi lambat, seperti ada yang menghentikan detik jam yang
berbunyi, seperti film-film di FTV yang di edit effect slow motion, berlebihan memang tapi itu yang kurasakan.
“kamu mau kemana?” ucapku. Sulit rasanya mengungkapkan kata itu.
“mau keatas, kumpul sama temen-temen. Kamu mau kemana?” jawabnya.
“eeeeemmmm.. mau ke..... (loading
lama) kostan”
“oh yaudah, aku
keatas dulu ya” sambungnya dengan beriringan kaki yang akan melangkah ke tangga
atas
lalu aku menjawab, “iya”. Percakapan singkat, padat, dan jelas.
Lalu kami berjalan berlawanan arah, dia ke atas dan aku ke bawah.
0,01cm, tangannya dan tanganku nyaris berdekatan.
Singkat cerita, akhirnya aku lulus. Tiba-tiba Dia yang kutemui di
tangga tempo lalu, berjalan ke arahku yang pada saat itu aku sedang berada di
pelataran masjid yang ada dikampusku, dibawakannya sebuah kotak berwarna merah
dan diberikan kepadaku, ketika dibuka ternyata isinya sebuah cincin, hal yang
tak pernah ku duga dia mengatakan,
“Will you merry me?”
Serontak aku kaget mendengarnya.. Namun aku hanya terdiam ketika
mendengar itu. orang-orang disekitarku pun merasakan hal yang sama. Saat itu
aku bingung harus menjawab apa, ini terjadi secara tiba-tiba. Dalam hati aku
berkata,
“apa ini hanya mimpi? Atau halusinasi? Ah entahlah, yang jelas aku
bingung. “
Andaikan masjid bisa bicara waktu itu, aku ingin menanyakan, apakah
ini yang namanya jodoh? Sayangnya, masjid bukanlah gedung yang bernyawa dan
berakal. Aku hanya termenung melihat dia yang masih berlutut di depanku.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar