Minggu, 09 Desember 2018

Harapan Lima Tahun Kedepan

~Lima Tahun Sebelumnya~
Kota ini sedang dilanda kemarau yang begitu panjang, teriknya matahari membuatku enggan keluar dan memilih untuk bersemedi di ruangan bersegi empat dengan kipas angin yang mencoba mendinginkan ruangan ini meski nyatanya tetap saja panas. Keadaan ini membuatku semakin tidak nyaman tatkala aku harus berpikir tentang akan menjadi apa lima tahun kedepan lalu kutuangkan kedalam tulisan. Bagaimana bisa aku mengutarakannya? jangankan untuk lima tahun bahkan esok hari pun aku tidak tahu akan menjadi apa. Realita anak kostan sepertiku setiap hari hanya memikirkan bagaimana makan dan hidup nyaman di tanah perantauan.
Pada hakikatnya waktu terus berputar dan takdir hidup terus berjalan sesuai porsinya. Dan aku tidak mungkin hanya akan berada di titik ini selamanya. Mengingat aku bukan lagi remaja melainkan wanita yang sudah bisa dikatakan dewasa menurut klasifikasi usiaku. Namun tidak ada keinginan untuk menyebutkan nominal usiaku, terlalu dini untuk mengatakannya. “Nanti saja kalau aku sudah siap“.
Inikah rasanya semester tujuh? Dengan semua kegundahan dan kegelisahan masa depan. Aku sudah terbawa suasana lamunan harapan lima tahun kedepan. Lalu aku harus bagaimana? Ini membuatku semakin bingung dan takut. Kebingungan akan menjadi seperti apa di tahun-tahun selanjutnya menjelma menjadi ketakutan jika akhirnya aku tidak menjadi apa-apa. Namun kembali lagi kepada takdir, dan mengingat proses yang aku jalani selama beberapa tahun. Banyak yang mengatakan proses tidak akan mengkhianati hasil. Semoga proses hidupku salahsatunya. Orang tua menjadi penyemangatku dan kebahagiaannya kutangguhkan kepada diriku sendiri. Dan Allah menjadi penulis skenario takdirku, berharap skenario terbaik dibuatkannya untukku.
~Lima Tahun Kemudian~
Perkenalkan, aku seorang wanita dewasa kelahiran kota tahu yang telah merantau ke kota Bandung dan sedang merantau di kota Jakarta. Sudah lama aku tidak pulang ke kota kelahiranku, karena sibuk dengan pekerjaan. Namun, selalu kusempatkan menghubungi ibuku dirumah yang sedang menikmati masa tuanya di kampung halaman tercinta. Usia ibuku semakin senja, bersyukur Allah selalu memberinya kesehatan dan umur panjang. Kebahagiaan ini semakin terasa, tatkala mengingat bahwa ibuku tidak lama ini sudah menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Dengan hasil jerih payahku, beliau berangkat ke tanah suci dengan rombongan haji lainnya. Ada sedikit sedih yang aku rasa, karena ayahku yang sudah dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu tidak bisa ikut serta dalam kebahagiaan ini.
“tidak usah khawatir ayah, putrimu baik-baik saja, doaku tidak henti-hentinya untukmu”.
            Semenjak lulus kuliah aku tidak menunda waktu lagi, ku niatkan untuk mencari pekerjaan yang layak agar gelar sarjana ini tidak sia-sia. Karena kehidupan di kampung halamanku penuh dengan komentaran netizen alias tetangga, menjadi penyemangat bagiku bahwa aku harus jadi orang sukses ketika orang-orang membicarakan seputar keluargaku.
            Impianku menjadi wanita karir akhirnya terwujud saat aku dewasa. Menjadi wanita yang tangguh, kuat, dan selalu beraktifitas penuh setiap harinya. Mulai dari melayani suami, menyiapkan makan, membersihkan dan menyiapkan  pakaiannya, belanja untuk bulanan bahkan di sela-sela kesibukan di kantor sesekali meluangkan waktu hanya untuk quality time (begitu kata bahasa gaul-nya). Sampai akhirnya aku dan suamiku berada di titik dimana menginginkan seorang buah hati. Maha Besar Allah dengan segala karunia-Nya, di usia pernikahan kami yang kesatu tahun, tepat diusia ku dua puluh enam tahun anak pertama kami lahir.
            Aisyah, itu nama anak pertamaku. Sekarang usianya sudah menginjak satu tahun. Sedang belajar jalan dan bicara. Anaknya lucu dan aktif. Kesukaannya bermain sambil di gendong Abinya. Jika Umi dan Abi nya berangkat bekerja ia tidak pernah rewel. Selalu mengikuti apa yang diperintah oleh kedua orang tuanya. “Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?” Pekerjaan yang layak kudapati. Suami yang baik dan bertanggungjawab mendampingi. Anak yang salehah selalu menemani.
~~~
Begitu sederhana harapanku. Siapa yang tidak menginginkan memiliki keluarga seharmonis itu? hidup penuh pilihan. Sesuatu yang kita pilih berarti menjadi jalan hidup kita. Dan pilihanku, mimpiku ingin menjadi seorang ibu yang menjaga dan mendidik anak-anakku juga menjadi seorang istri solehah yang berbakti kepada suamiku, nanti. Terkadang aku selalu merasa takut jika harus memimpikan masa depan, alasannya “belum siap mental” ketika semua tidak bisa aku wujudkan. Berdoa dan berusaha lah jalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar