~Lima Tahun Sebelumnya~
Kota ini sedang dilanda kemarau yang begitu panjang, teriknya
matahari membuatku enggan keluar dan memilih untuk bersemedi di ruangan bersegi
empat dengan kipas angin yang mencoba mendinginkan ruangan ini meski nyatanya
tetap saja panas. Keadaan ini membuatku semakin tidak nyaman tatkala aku harus
berpikir tentang akan menjadi apa lima tahun kedepan lalu kutuangkan kedalam
tulisan. Bagaimana bisa aku mengutarakannya? jangankan untuk lima tahun bahkan
esok hari pun aku tidak tahu akan menjadi apa. Realita anak kostan sepertiku
setiap hari hanya memikirkan bagaimana makan dan hidup nyaman di tanah
perantauan.
Pada hakikatnya waktu terus berputar dan takdir hidup terus
berjalan sesuai porsinya. Dan aku tidak mungkin hanya akan berada di titik ini
selamanya. Mengingat aku bukan lagi remaja melainkan wanita yang sudah bisa
dikatakan dewasa menurut klasifikasi usiaku. Namun tidak ada keinginan untuk
menyebutkan nominal usiaku, terlalu dini untuk mengatakannya. “Nanti saja
kalau aku sudah siap“.
Inikah rasanya semester tujuh? Dengan semua kegundahan dan
kegelisahan masa depan. Aku sudah terbawa suasana lamunan harapan lima tahun
kedepan. Lalu aku harus bagaimana? Ini membuatku semakin bingung dan takut.
Kebingungan akan menjadi seperti apa di tahun-tahun selanjutnya menjelma
menjadi ketakutan jika akhirnya aku tidak menjadi apa-apa. Namun kembali lagi
kepada takdir, dan mengingat proses yang aku jalani selama beberapa tahun.
Banyak yang mengatakan proses tidak akan mengkhianati hasil. Semoga proses
hidupku salahsatunya. Orang tua menjadi penyemangatku dan kebahagiaannya
kutangguhkan kepada diriku sendiri. Dan Allah menjadi penulis skenario
takdirku, berharap skenario terbaik dibuatkannya untukku.
~Lima Tahun Kemudian~
Perkenalkan, aku seorang wanita dewasa kelahiran kota tahu yang
telah merantau ke kota Bandung dan sedang merantau di kota Jakarta. Sudah lama
aku tidak pulang ke kota kelahiranku, karena sibuk dengan pekerjaan. Namun,
selalu kusempatkan menghubungi ibuku dirumah yang sedang menikmati masa tuanya
di kampung halaman tercinta. Usia ibuku semakin senja, bersyukur Allah selalu
memberinya kesehatan dan umur panjang. Kebahagiaan ini semakin terasa, tatkala
mengingat bahwa ibuku tidak lama ini sudah menyempurnakan rukun Islam yang
kelima. Dengan hasil jerih payahku, beliau berangkat ke tanah suci dengan
rombongan haji lainnya. Ada sedikit sedih yang aku rasa, karena ayahku yang
sudah dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu tidak bisa ikut serta dalam kebahagiaan
ini.
“tidak usah khawatir ayah, putrimu baik-baik saja, doaku tidak
henti-hentinya untukmu”.
Semenjak lulus
kuliah aku tidak menunda waktu lagi, ku niatkan untuk mencari pekerjaan yang
layak agar gelar sarjana ini tidak sia-sia. Karena kehidupan di kampung
halamanku penuh dengan komentaran netizen alias tetangga, menjadi penyemangat
bagiku bahwa aku harus jadi orang sukses ketika orang-orang membicarakan
seputar keluargaku.
Impianku menjadi
wanita karir akhirnya terwujud saat aku dewasa. Menjadi wanita yang tangguh,
kuat, dan selalu beraktifitas penuh setiap harinya. Mulai dari melayani suami,
menyiapkan makan, membersihkan dan menyiapkan
pakaiannya, belanja untuk bulanan bahkan di sela-sela kesibukan di
kantor sesekali meluangkan waktu hanya untuk quality time (begitu kata
bahasa gaul-nya). Sampai akhirnya aku dan suamiku berada di titik dimana
menginginkan seorang buah hati. Maha Besar Allah dengan segala karunia-Nya, di
usia pernikahan kami yang kesatu tahun, tepat diusia ku dua puluh enam tahun
anak pertama kami lahir.
Aisyah, itu nama
anak pertamaku. Sekarang usianya sudah menginjak satu tahun. Sedang belajar
jalan dan bicara. Anaknya lucu dan aktif. Kesukaannya bermain sambil di gendong
Abinya. Jika Umi dan Abi nya berangkat bekerja ia tidak pernah rewel. Selalu
mengikuti apa yang diperintah oleh kedua orang tuanya. “Nikmat mana lagi
yang engkau dustakan?” Pekerjaan yang layak kudapati. Suami yang baik dan
bertanggungjawab mendampingi. Anak yang salehah selalu menemani.
~~~
Begitu sederhana harapanku. Siapa yang tidak menginginkan memiliki
keluarga seharmonis itu? hidup penuh pilihan. Sesuatu yang kita pilih berarti
menjadi jalan hidup kita. Dan pilihanku, mimpiku ingin menjadi seorang ibu yang
menjaga dan mendidik anak-anakku juga menjadi seorang istri solehah yang
berbakti kepada suamiku, nanti. Terkadang aku selalu merasa takut jika harus
memimpikan masa depan, alasannya “belum siap mental” ketika semua tidak bisa
aku wujudkan. Berdoa dan berusaha lah jalannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar